Sabtu, 09 Juni 2012

Euro dan Sepak Bola Kita

 

Euro dan Sepak Bola Kita
Oleh : *
*
Padang Ekspres • Sabtu, 09/06/2012 11:59 WIB • 153 klik
INI kabar gembira bagi para gibol alias penggila bola. Mulai malam ini pentas akbar Euro 2012 resmi dimulai. Seperti biasa, setiap perhelatan event sepak bola akbar semacam Euro atau Piala Dunia, atmosfernya terasa sampai ke negeri ini. Padahal, tidak ada timnas Indonesia yang berlaga di ajang tersebut.

Entah mengapa, para gibol di negeri ini seolah-olah begitu dekat dengan Euro atau bahkan Piala Dunia. Acara nonton bareng (nobar) digelar di mana-mana. Toko-toko yang menjual aneka pernik sepakbola mendadak ramai. Perbincangan tentang bola pun terjadi di hampir semua sendi kehidupan warga.

Media Indonesia juga tak mau kalah. Mereka ramai-ramai mengirimkan wartawan untuk meliput langsung Euro. Biaya yang mahal, rasanya, tidak lagi menjadi alasan. Pokoknya harus mengirim wartawan untuk memberikan laporan langsung. Pendek kata, media-media di Indonesia ikut berperang untuk menyajikan liputan yang terbaik. Padahal, sekali lagi, tidak ada pasukan Garuda di arena Euro.

Di ranah yang lain, para pejabat dan figur publik di negeri ini pun tiba-tiba fasih bicara tentang bola. Mereka menjadi suporter dadakan. Ada yang menjagokan Spanyol, Belanda, Italia, Jerman, Inggris, atau bahkan tim sekelas Republik Irlandia dan Rusia. Mereka juga mendadak cakap berbicara tentang strategi permainan di atas lapangan hijau. Komentator-komentator baru bermunculan. Bisa dipas­tikan, isu tentang bola bakal mendominasi negeri ini sampai akhir perhelatan Euro nanti.

Sejatinya tidak ada yang salah ketika negeri ini mendadak terjangkit demam Euro. Sah-sah saja mengirim banyak wartawan ke Polandia dan Ukraina. Sah-sah saja para pejabat bicara bola. Sah-sah sajamembuat acara nobar di mana-mana. Masalahnya, ketika kita larut dalam pesta dan keseruan Euro nan jauh di sana, sepakbola kita justru tengah teronggok di dasar keterpurukan. Tidak ada prestasi membanggakan yang diukir bintang-bintang lapangan hijau dalam satu dasawarsa terakhir.

Alih-alih mencetak prestasi, menjalankan roda kompetisi saja kita tidak becus. Sudah dua musim terakhir kompetisi sepak bola negeri ini berjalan amburadul. Perang kepentingan di pucuk PSSI berujung pada dualisme kompetisi. Setiap kubu ngotot dengan pendapat masing-masing. Alhasil, kompetisi berjalan tanpa arah yang jelas.

Ketika kita begitu memuja aksi-aksi brilian bintang-bintang sepakbola Eropa, pemandangan menyedihkan muncul di stadion-stadion di tanah air. Pemain adu jotos, wasit dianiaya, tribun dibakar, dan suporter rusuh yang seolah tidak pernah ada ujungnya. Belakangan, berita tentang tewasnya suporter makin kerap menghiasi koran dan layar kaca.

Memang tidak sepadan jika kita membandingkan sepakbola negeri ini dengan keindahan yang ada di Euro. Namun, seyogyanya kita harus belajar banyak dari ajang akbar empat tahunan itu. Para pemain harus belajar tentang cara bermain yang indah. Para suporter pun harus meniru kedewasaan gibol-gibol di Eropa. Kalau hal itu dilakukan, kita bisa berharap wajah sepak bola Indonesia bakal lebih baik. Semoga. (*)

sumber:   http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=1954

Tidak ada komentar:

Posting Komentar